Selayang pandang...........


UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (UPTD Dikpora) Unit Kecamatan Karangsambung berkedudukan di Jalan Karangsambung Km 15 Kebumen tepatnya di Desa Kaligending. Membawahi 30 sekolah dasar dan 13 taman kanak-kanak.

Sambil dengerin lagu yuuuuk....!!!

D'Masiv ~ Jangan Menyerah

Get more songs & code at www.stafaband.info

31 Januari 2010

10 Cara Kreatif Mengajar Matematika

Berikut ini ada beberapa aktifitas di kelas untuk menumbuhkan kreativitas dalam pengajaran matematika. Dalam pengajaran, sering-seringlah mengajukan pertanyaan kritis seperti “Apakah Kamu mencoba ini?” “Apa yang akan terjadi jika ada ini ?” “Apakah kamu dapat?” untuk meningkatkan pemahaman anak-anak dari ide-ide dan kosakata matematika. Berikut beberapa aktifitas yang mungkin dapat dipraktekkan di kelas:

1. Gunakan dramatisasi. Ajaklah anak-anak berpura-pura berada di sebuah bola (sphere) atau kotak (prisma), merasakan sisi-sisinya, ujung-ujungnya, dan sudutnya dan menyandiwarakan secara sederhana masalah aritmatika seperti: Tiga katak melompat dalam kolam dsb.

2. Menggunakan anggota tubuh anak-anak. Menyarankan agar anak-anak menunjukkan berapa banyak kaki, mulut, dan sebagainya. Ketika diminta untuk menampilkan “tiga tangan,” mereka akan menanggapi dengan protes keras, dan kemudian menunjukkan berapa banyak tangan yang mereka memiliki( “membuktikan”) ini. Kemudian mengajak anak-anak untuk menampilkan nomor dengan jari, dimulai dengan pertanyaaan sederhana, “Berapa usia Kamu?” Kemudian siswa diminta menunjukkan angka yang diminta guru. Selain itu guru menampilkan angka dalam berbagai cara (misalnya, menunjukkan lima dengan tiga pada jari tangan kiri dan dua di jari tangan kanan).

3. Menggunakan permainan. Melibatkan anak-anak bermain yang memungkinkan mereka untuk melakukan matematika dalam berbagai cara, termasuk pengurutan, menciptakan bentuk simetris dan bangunan, membuat pola, dan sebagainya. Kemudian memperkenalkan permainan jual-beli di toko, menunjukkan anak-anak permainan membeli dan menjual mainan atau benda kecil lainnya, belajar menghitung, aritmatika, dan konsep uang.

4. Menggunakan mainan. Mendorong anak-anak untuk menggunakan “adegan” dan mainan untuk simulasi kejadian nyata, seperti tiga mobil di jalan, atau misalnya, untuk menunjukkan ada dua monyet di atas pohon dan dua di atas tanah.

5. Menggunakan cerita anak-anak. Bercerita tentang sebuah kisah menarik yang didalamnya berisi konsep matematika. Jika perlu diperagakan khususnya untuk memperjelas konsep matematikanya

6. Gunakan kreativitas alami anak. Menggali ide anak tentang matematika harus didiskusikan dengan mereka. Misal seorang anak 6 tahun ditanya begini: “Pikirkan angka terbesar yang kamu tahu, lalu tambah angka itu dengan lima. Bayangkan kamu memiliki coklat sejumlah angka itu”. “Wow, itu 5 angka lebih besar yang kamu tahu”.

7. Menggunakan kemampuan pemecahan masalah. Menanyakan anak-anak untuk menjelaskan bagaimana mereka mengetahui masalah-masalah seperti mendapatkan hanya cukup untuk mereka gunting tabel atau berapa banyak makanan ringan mereka perlu jika tamu yang bergabung dengan grup. Mendorong mereka untuk menggunakan jari-jari mereka sendiri atau apapun yang mungkin berguna untuk memecahkan masalah.

8. Menggunakan berbagai strategi. Bawalah matematika dimanapun di dalam kelas, dari menghitung jumlah anak-anak di pagi hari, menghitung meja kursi, meminta anak-anak untuk membersihkan barang yang ada nomor tertentu, atau membersihkan barang yang berbentuk geometris tertentu dsb.

9. Menggunakan teknologi. Cobalah gunakan kamera digital untuk memotret hasil kerja anak, permainan dan aktifitas yang dilakukan, dan kemudian menggunakan foto untuk diskusi dengan anak-anak, perencanaan kurikulum, dan komunikasi dengan orang tua. Gunakan juga teknologi lain, seperti komputer secara bijak.

10. Gunakan assessment untuk mengukur penilaian anak-anak belajar matematika. Menggunakan observasi, diskusi dengan anak-anak, dan kelompok-kecil untuk kegiatan belajar anak-anak tentang matematika dan berpikir untuk membuat keputusan tentang apa yang mungkin setiap anak dapat belajar dari pengalaman. Juga mencoba menggunakan komputer untuk penilaian menggunakan program secara otomatis.

Sumber: http://www2.scholastic.com/

03 Januari 2010

JADWAL UASBN 2009/2010

Jadwal UASBN 2009/2010 berdasarkan Keputusan Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor: 0026/SK-Pos/BSNP/XII/2009 Tentang Prosedur Operasi Standar (POS) Ujian Aekolah Berstandar Nasional Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah dasar Luar Biasa (UASBN SD/MI/SDLB) Tahun Pelajaran 2009/2010 adalah sebagai berikut:

Jadwal UASBN Tahun Pelajaran 2009/2010 SD, MI, dan SDLB

A. UTAMA:

1. Selasa, 4 Mei 2010 pukul 08.00 - 10.00 Bahasa Indonesia
2. Rabu, 5 Mei 2010 pukul 08.00 - 10.00 Matematika
3. Kamis, 6 Mei 2010 pukul 08.00 - 10.00 Ilmu Pengetahuan Alam

B. SUSULAN

1. Senin, 10 Mei 2010 pukul 08.00 - 10.00 Bahasa Indonesia
2. Selasa, 11 Mei 2010 pukul 08.00 - 10.00 Matematika
3. Rabu, 12 Mei 2010 pukul 08.00 - 10.00 Ilmu Pengetahuan Alam

*****

01 Januari 2010

Enam Syarat Sekolah Berkualitas

Pernahkan Anda membayangkan, apakah didalam benak siswa benar-benar ingin berprestasi atau sebaliknya? Apakah mereka datang ke sekolah dengan rasa senang atau sebaliknya? Tentu tidak gampang menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat. Tetapi mungkin ada cara untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat indikator-indikatornya.

Sekolah yang berkualitas tidak lahir dengan sendirinya. Juga tidak lahir semata-mata karena fasilitas yang lengkap. Sekolah yang berkualitas harus dibentuk dan direncanakan dengan baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Komitmen warga sekolah, stake holder, adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari terlahirnya sebuah sekolah yang berkualitas.

Glasser, dalam bukunya yang kedua, The Quality School Teacher memberi pesan kepada kita bahwa sedikitnya ada enam syarat yang harus dipenuhi sebuah sekolah agar menjadi sekolah berkualitas. Keenam syarat tersebut adalah:

1. Harus ada lingkungan kelas yang hangat dan mendukung.
Tanpa adanya jalinan yang akrab antara semua warga sekolah (guru, siswa, staf, dan karyawan lain) tidak bias dihasilkan tugas-tugas sekolah yang berkualitas, dan lebih dari semua itu harus terbangun saling percaya/kepercayaan.

2. Siswa harus selalu diminta (hanya) untuk melakukan hal-hal yang berguna.
Tidak boleh ada siswa yang diminta untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti mengingat atau menghafal (secara berlebihan). Apa pun yang mereka kerjakan, harus ada manfaatnya – secara praktis, estetis, intelektual, atau pun sosial.

3. Siswa selalu diminta untuk mengerjakannya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.
Ini berarti siswa harus diberi kesempatan yang memadai untuk dapat mengerjakan tugas-tugasnya agar pekerjaannya berkualitas. Mereka sebenarnya sudah biasa diberi tugas, tetapi bukan belajar, dan hampir tidak pernah berusaha melakukan pekerjaan yang berkualitas.

4. Siswa diajari dan diberi kesempatan mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri, kemudian diminta untuk meningkatkannya.
Mengevaluasi sendiri adalah hal yang paling sulit diterapkan, tetapi penting dilakukan untuk mencapai perbaikan yang konstan dalam usaha siswa menghasilkan pekerjaan berkualitas.

5. Pekerjaan yang berkualitas selalu terasa menyenangkan.
Sungguh menyedihkan melihat sangat sedikit siswa yang merasa nyaman dalam pelajaran-pelajaran mereka sekarang. Bukan hanya sisw a yang merasa senang jika mereka berhasil mengerjakan sesuatu dengan berkualitas, guru dan orangtua pun merasa senang memerhatikan prose situ.

6. Pekerjaan berkualitas tidak pernah bersifat merusak.
Tidak berkualitas namanya, jika meraih perasaan senang dengan cara memakai obat adiktif atau merugikan orang lain, makhluk hidup, benda milik orang lain, atau lingkungan.

Silakan direnungkan, apakah semua syarat kualitas tersebut sudah ditemukan di sekolah Anda dan apa artinya itu bagi semua pihak yang terkait; atau, apabila baru sebagian yang diterapkan, apa sebab belum diterapkannya keenam syarat ini, dan apa yang bias dilakukan untuk memperbaiki situasi tersebut.

*****

30 Desember 2009

Pengertian Panas

Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi dapat berubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Contoh salah satu bentuk energi adalah Panas. Manusia sangat membutuhkan panas seperti memasak nasi, menjemur pakaian, atau menyetrika pakaian. Perpindahan energi panas dapat terjadi di benda padat, cair maupun gas. Perpindahan panas dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu.

Panas atau sering disebut dengan kalor adalah salah satu bentuk energi. Benda-benda menjadi panas karena diberi energi. Perpindahan energi panas terjadi dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Satuan energi panas sama dengan satuan energi yang lain yaitu joule (j),atau satuan yang lain yang sering digunakan adalah kalori (kal).

Kesetaraan antara satuan joule dan kalori adalah sebagai berikut :


Jika dua benda dengan suhu berbeda disentuhkan, benda yang bersuhu tinggi akan mengalami penurunan suhu. Sebaliknya, benda yang bersuhu rendah akan mengalami kenaikan suhu. Pada akhirnya suhu benda sama. Hal ini terjadi karena adanya perpindahan panas dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah.

Panas secara alami tidak dapat berpindah dari benda bersuhu rendah ke benda bersuhu tinggi.Namun dengan bantuan alat khusus, panas dapat berpindah dari benda bersuhu rendah ke benda bersuhu tinggi. Sebagai contoh, perpindahan panas ruangan ber AC ke luar ruangan. Dengan bantuan AC, panas dari ruangan AC yang bersuhu lebih rendah diserap, kemudian dilepaskan di ruangan lain yang bersuhu lebih tinggi.

Sumber Energi Panas

Panas atau kalor yang berasal dari suatu benda dapat berasal dari berbagai sumber. Sumber panas tersebut dapat berasal dari :

1. Matahari



Matahari adalah sumber energi yang sangat besar.Reaksi yang terjadi di matahari adalah reaksi fusi, yaitu penggabungan inti-inti atom hidrogen membentuk inti-inti atom helium. Salah satu dampak reaksi fusi tersebut adalah panas. Energi panas yang sampai ke bumi adalah hanya sebagian kecil dari energi total yang dipancarkannya.

2. Bahan Bakar



Energi panas dapat berasal dari bahan bakar, misalnya bahan bakar minyak bumi. Bahan bakar minyak bumi adalah energi yang tidak dapat diperbaharui, bahan bakar tersebut dapat berupa minyak tanah, bensin, atau solar yang biasa digunakan sebagai pengisi bahan bakar pada kendaraan bermotor.

3. Listrik



Listrik adalah salah satu sumber energi panas. Listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik dapat bersumber dari panas bumi, atau air.

Listrik yang digunakan di rumah dapat diubah menjadi energi panas, alat yang dapat merubah energi tersebut terdapat pada setrika listrik, pemanas air, atau microwave.

4. Makanan



Makhluk hidup memerlukan makanan sebagai sumber energinya. Energi kimia yang terdapat dalam makanan dapat berubah bentuk menjadi energi panas. Hal tersebut dapat kita rasakan setelah kita mengkonsumsi makanan, tubuh kita terasa hangat.

5. Gesekan

Gesekan dapat ditimbulkan oleh dua permukaan benda yang saling bersentuhan. Dampak dari adanya gesekan adalah terjadinya panas, besarnya energi panas yang timbul dapat bergantung dari tingkat kekasaran permukaan benda yang bergesekan, semakin kasar permukaan suatu benda maka semakin besar pula panas yang ditimbulkan.

Sebagai contoh pada zaman dahulu orang membuat api dengan cara menggesek-gesekan dua buah batu, gesekan pada batu menimbulkan panas. Contoh lain bahwa gesekan dapat menimbulkan panas adalah gesekan antara meteor yang jatuh ke bumi dengan lapisan atmosfir bumi, meteor akan terbakar karena gesekan antara keduanya.

15 Desember 2009

Ingin naik pangkat? Bikin KTI dulu ....

Membuat karya tulis ilmiah menjadi syarat bagi guru golongan III/B dan III/C di Jawa Tengah untuk kenaikan golongan, demikian dikatakan Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Tengah, Slamet Trihartanto di Solo, Senin (14/12-09).

"Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 66 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, mulai 2010 ketentuan tersebut akan diterapkan," katanya.

Hal tersebut dilakukan sebagai penjaminan mutu pendidikan di tingkat dasar dan menengah di Jawa Tengah.

"Selain itu, upaya tersebut juga dilakukan sebagai pemberian fasilitasi guru di Jawa Tengah dalam meningkatkan kompetensinya sebagai tenaga pengajar," katanya.

Slamet mengatakan, setiap karya tulis ilmiah yang dibuat setiap guru akan memiliki nilai kredit poin sebanyak 12.

"Karya tulis yang dibuat para guru bisa berbentuk jurnal penelitian maupun bahan ajar atau diktat," kata dia.

Untuk lebih memotivasi para guru dalam membuat karya tulis ilmiah, LPMP juga akan melombakan seluruh karya tulis ilmiah yang dibuat para guru di Jawa Tengah.

"Ini akan lebih efektif dalam meningkatkan kualitas mereka dibandingkan dengan hanya memberikan dana hibah," kata Slamet.

Terkait karya tulis ilmiah sebagai syarat kenaikan golongan, LPMP juga akan mengawasi secara ketat proses pembuatan karya tulis ilmiah tersebut.

"Jika ada yang terbukti mengerjakannya dengan jalan pintas, salah satunya adalah menjiplak, maka sanksi pencoretan dari daftar golongan akan diberikan kepada peserta yang melakukan pelanggaran tersebut," katanya.

Berdasar data tahun 2009, jumlah guru di Jawa Tengah sebanyak 397.256 orang, di antaranya guru yang bergolongan IV/A berjumlah 92.453 orang dan bergolongan IV/B ke atas berjumlah 707 orang atau 0,18 persen.

"Sisanya adalah guru bergolongan IV/A ke bawah dengan jumlah 304.096 orang atau 76,55 persen. Berdasarkan data tersebut jumlah guru golongan IV/B ternyata masih sangat sedikit," kata dia.

Salah satu faktor penghambat peningkatan karier mereka adalah belum optimalnya kemampuan guru dalam menyusun karya tulis ilmiah.

"Oleh karena itu, adanya ketentuan syarat karya tulis ilmiah dapat memotivasi para guru untuk meningkatkan golongan mereka secara lebih berkualitas," kata Slamet Trihartanto.

sumber : Kompas

07 Desember 2009

Cerdas dan Cerdas Istimewa, Inilah beda keduanya....

Anak-anak cerdas (bright/high achiever) berbeda dengan anak-anak cerdas/berbakat istimewa atau CI+BI (gifted). Mereka tidak bisa dimasukkan ke dalam kelompok gifted karena mereka memiliki karakteristik yang berbeda.
Hal tersebut diakui oleh Sekretaris Dewan Pembina Cugenang Gifted School Amril Muhammad di Cianjur, Jawa Barat, Jumat (21/8). Amril mengatakan, sekalipun mereka juga memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, kemampuan mereka dalam analisis, abstraksi, dan kreativitas tidak seluar biasa anak-anak CI-BI. Inilah perbedaan umum keduanya:

CERDAS
- Menjawab pertanyaan dengan benar
- Berminat dengan sesuatu
- Menunjukkan perhatian
- Gagasan bagus, populer
- Bekerja keras agar sukses ujian
- Menjawab soal sesuai pertanyaan
- Suka linearitas
- Pemerhati yang baik
- Mendengarkan penuh minat
- 6-8 kali pengulangan materi
- Memahami gagasan orang lain
- Senang berteman dengan sebaya
- Menarik kesimpulan
- Menyelesaikan tugas yang diberikan

CERDAS ISTIMEWA
- mempersoalkan pertanyaan
- penasaran dengan sesuatu
- terlibat emosional, mental dan fisik
- gagasan aneh, konyol, tidak umum
- jarang belajar, hasil ujian bagus
- memperluas konteks pertanyaan
- gemar kompleksitas
- pengamat yang kritis, bawel
- menyimak untuk siap berdebat
- cukup 1-2 kali penglangan
- membentuk gagasan sendiri
- bergaul dengan orang dewasa
- mempertanyakan keputusan
- memulai proyek sendiri

Sumber : kompas.com

30 Juni 2009

TELAH LAHIR BULETIN "Sketsaku"

Pada awal Juni 2009 bertepatan dengan akhir tahun pelajaran 2008/2009 secara diam-diam tanpa publikasi telah dilahirkan sebuah buletin yang diperuntukkan bagi rekan-rekan guru khususnya di Kecamatan Karangsambung. Untuk sementara buletin tersebut dikelola oleh UPTD Dinas Dikpora Kecamatan Karangsambung dibawah koordinasi Pengawas TK/SD. Pada masa-masa yang akan datang, buletin ini diproyeksikan menjadi ajang berlatih menulis dan sebagai media untuk mengekspresikan berbagai masalah yang masih dalam lingkup tugas mereka sebagai guru.


Buletin ini memiliki misi mengembangkan kemampuan profesional guru melalui bacaan yang bermutu dan berkaitan dengan tugas-tugas mereka. Di bawah ini sampel buletin dalam versi blog. Semoga bermanfaat.

Media belajar bagi guru di UPTD Dikpora Karangsambung yang mencoba untuk lebih berarti dengan segala keterbatasan yang dimiliki....
Nomor 003 Tahun I Edisi Minggu ke-3 Juni 2009

Bagaimana Membina Calon Juara OSN?

Kegiatan seleksi olimpiade sains (Matematika dan IPA) adalah kegiatan rutin yang selalu diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini bukan kegiatan musiman yang penyelenggaraannya tidak menentu, tetapi merupakan kegiatan yang diselenggarakan dengan kalender yang relatif ajeg. Oleh karena itu, seleksi olimpiade sains nasional (OSN) merupakan kegiatan lomba yang cukup mudah diantisipasi persiapannya oleh setiap sekolah.
Mungkinkah salah satu anak didik kita mampu menjadi juara OSN? Jawabnya ‘sangat mungkin’. Tuhan menganugerahkan otak yang cerdas tidak hanya kepada anak-anak kota, tetapi juga kepada anak-anak kita yang lahir, hidup dan dibesarkan di pedesaan. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak setiap pemenang OSN adalah anak-anak yang berasal dari perkotaan. Berawal dari sinilah kita hendaknya mampu membangun optimisme dan bekerja keras dengan membentuk “partai optimis” di sekolah kita. Kalau selama ini anak didik kita belum mampu menjadi juara, itu tidak berarti bahwa anak-anak kita tidak akan pernah menjadi juara.
Fakta yang kita alami adalah, selama ini anak-anak kita belum pernah menjadi juara. Mengapa demikian? Barangkali mereka belum mendapat bekal yang cukup untuk menempati kedudukan terhormat tersebut. Mereka lebih sering hanya berperan menjadi semacam pemandu sorak, yang lebih sering dikirim hanya untuk meramaikan suasana saja.
Beberapa saran yang dapat dilakukan sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi dalam bidang lomba OSN antara lain:

1. Menyusun program pembinaan. Program pembinaan hendaknya disusun untuk jangka menengah dan jangka tahunan. Jangka menengah (untuk kurun waktu 3 tahun) sangat penting disiapkan dalam menyongsong dan mempersiapkan anak didik dalam laga lomba tiga tahun yang akan datang. Dalam program tersebut hendaknya memuat beberapa aspek penting antara lain:
a. Menetapkan bagaimana merekrut calon peserta
b. Menentukan sistem pembinaan yang akan diterapkan
c. Menetapkan jadwal pembinaan
d. Menentukan dan mempersiapkan pembina
e. Menetapkan alokasi anggaran yang harus disiapkan

2. Menyiapkan substansi materi (IPA atau Matematika). Materi pembinaan calon juara OSN tidak serupa dengan materi pembelajaran. Soal-soal olimpiade sains tidak merupakan jenis soal biasa, tetapi soal-soal yang luar biasa. Maksudnya, soal-soal olimpiade itu dikemas dan disusun sedemikian rupa sehingga terkesan sulit dan seperti bukan materi untuk sekolah dasar. Di bawah ini saya sajikan contoh tipe soal bukan olimpiade dan tipe soal olimpiade.

Tipe soal bukan olimpiade:

23 + 607 + n = 702 n = ….

Tipe soal olimpiade :

23 + 24 + 25 + …………. + 33 = n n = ….

Setelah kita membandingkan kedua soal tersebut (yang sama-sama menyajikan operasi penjumlahan) maka nampak jelas bagi kita bahwa soal olimpiade memiliki karakteristik yang berbeda dengan soal yang bukan olimpiade. Untuk memecahkan soal-soal olimpiade, selain calon peserta harus memahami konsepnya, mereka juga harus dibekali cara khusus (trik) yang membuat mereka mampu menyelesaikan soal lebih cepat dan benar. Penyelesaian soal olimpiade yang serupa contoh di atas, tentu saja akan membutuhkan waktu yang relative lebih lama jika dikerjakan dengan cara-cara biasa.

3. Materi pembinaan bahasa. Seperti telah kita ketahui bersama bahwa soal-soal olimpiade juga menyajikan soal dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu materi pembinaan juga meliputi pembahasan soal-soal yang disajikan dalam Bahasa Inggris. Calon peserta sebenarnya tidak dituntut untuk benar-benar menguasai Bahasa Inggris sebagaimana orang belajar Bahasa Inggris, tetapi calon peserta harus dibekali sebanyak mungkin kosa kata dalam Bahasa Inggris yang berhubungan dengan kosa kata yang banyak dijumpai dan umum digunakan dalam IPA atau Matematika. Beberapa pengalaman berdasar pengamatan penulis, banyak dijumpai peserta seleksi olimpiade (khususnya IPA) yang gagal menjadi yang terbaik karena lemahnya kemampuan menyelesaikan soal dalam Bahasa Inggris. Maksud saya, peserta tersebut salah menjawab bukan karena tidak menguasai substansi materinya tetapi gagal karena tidak memahami isi/maksud soal yang disajikan dalam Bahasa Inggris.

4. Peralatan praktik/eksperimen. Dalam dua atau tiga tahun terakir ini seleksi olimpiade sains bagi siswa SD/MI tidak menyajikan soal yang menuntut peserta melakukan praktik atau eksperimen secara langsung di depan penguji. Meskipun demikian, tidak berarti calon peserta tidak perlu dibekali pengalaman bereksperimen untuk menemukan atau membuktikan kebenaran atas sebuah teori, konsep atau fakta. Pengalaman bereksperiman sangat diperlukan bagi mereka karena meskipun tidak dilakukan uji terhadap kemampuan praktik/eksperimen, pengalaman melakukan praktik/bereksperimen dibutuhkan untuk memecahkan soal-soal yang hanya bias dipecahkan dengan tepat jika peserta benar-benar telah memiliki pengalaman mempraktikkan.
Prasyarat utama menjadi peserta OSN adalah memiliki nilai IPA atau Matematika minimal 7,5 (tujuh koma lima) sejak semester pertama kelas tiga berturut-turut sampai semester pertama kelas lima. Dengan demikian, sebenarnya kita bisa mulai membina calon juara tersebut paling tidak selama lima semester. Waktu yang cukup panjang dan sangat mungkin untuk memberikan bekal yang cukup untuk menyiapkan siswa berlaga pada ajang seleksi olimpiade.
Logikanya sangat sederhana. Setelah kita menemukan siswa dengan nilai rapor 7,5 atau lebih dari anak kelas tiga, sejak itulah anak tersebut kita tetapkan untuk diproyeksikan sebagai peserta lomba dan kita mulai melakukan pembinaan. Karena anak tersebut kita bina secara intensif, maka hampir tidak mungkin anak tersebut akan mengalami gagal berpeluang karena prestasinya menurun. Jika pada tahun ini kita menemukan masing-masing dua anak yang mendapatkan nilai 7,5 untuk IPA dan Matematika, maka sedikitnya kita telah memiliki dua calon juara OSN pada dua atau tiga tahun yang akan datang.
Bagi golongan “partai pesimis”, maka mereka akan berkata “Akh, itu kan teorinya..!!”. Boleh saja Anda berkata demikian. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak bisa kita pungkiri bahwa dalam banyak hal, kita memang harus lebih dahulu menciptakan ‘teori’ untuk menciptakan reka bentuk / gambaran berbagai alternatif langkah yang akan kita lakukan untuk mewujudkan yang kita inginkan, dan menghindar dari berbagai kemungkinan yang tidak kita kehendaki. Alur pemikirannya sederhana. Jika kita tidak membuat ‘teori’, maka akan sangat sulit bagi kita untuk menetapkan langkah-langkah apa yang akan kita lakukan guna meraih keinginan tersebut. Dengan merancang ‘teori’, kita menjadi tertantang untuk membuktikan kebenaran ‘teori’ tersebut.
Menyiapkan program, menyiapkan materi, melakukan pembinaan bahasa, dan menyiapkan dan melatih praktik/eksperimen adalah teori yang harus kita buktikan kebenarannya untuk menjadikan anak kita menjadi juara OSN.
Semoga dapat menginspirasi.